Jumat, 30 Desember 2011

Aku dan Shalatku



Ingat kata “shalat”, ingat ibu.
Kenapa? Alasannya sepele, karena ibu yang “memaksa” aku shalat ketika umurku berlabuh pada angka 8. Ketika aku duduk di kelas 3 SD.

Shalat.
Kata itu berhasil membuat aku jengkel setengah mati. Benci tepatnya. “Pekerjaan” menyebalkan yang harus aku kerjakan berkali-kali dalam sehari.
Hei, aku masih 8 tahun waktu itu. Selalu benci sama ibu kalau sudah melotot hanya karena aku belum mengerjakan hal itu. Marah-marah. Ya ampuun.. cerewetnyaa..
Selalu kesal kalau ibu sudah berisik shubuh-shubuh, menyuruh pulang ke rumah kalau belum shalat dzuhur, ashar, atau maghrib, dan pastinya belum boleh tidur kalau belum isya. Ckckck..

Shalat.
Waktu shubuh, kalau bapak yang membangunkan aku dari tidur, aku akan dengan “enteng”nya bilang, “ntar dulu ya pak, masih ngantuk”, sambil menarik selimut dengan enaknya. Trus, dengan “enteng”nya juga bapak akan bilang ke ibu. Dan tau apa yang terjadi? Dari dapur ibu akan teriak, “mbaa..”, dan aku langsung cepat-cepat bangun menuju kamar mandi untuk ber-wudhu. (Padahal baru mendengar suara ibu)
Waktu dzuhur, kalau aku masih asik bermain di rumah teman, pasti ibu menyuruh bibi untuk menjemputku agar segera pulang ke rumah. Itu adalah hal yang paling menyebalkan, karena jika sudah pulang otomatis aku tidak akan diperbolehkan main lagi. Disuruh tidur. Hmm..
Waktu ashar, kalau aku sedang bermain di taman dekat rumah dan kebetulan melihat ibu lewat (habis mengikuti pengajian), aku akan berusaha untuk bersembunyi supaya tidak kelihatan. Kalau untung, ya aku bias tetap main. Kalo tidak beruntung, ya disuruh pulang.
Pernah suatu hari aku ingin bermain ke luar, baru keluar dari rumah, eh, ibu sudah pulang dari pengajian. Waktu ibu bertanya apakah aku sudah shalat, dengan PD aku menjawab, “udah dong..”, aku kira ibu akan percaya, setelah itu ibu langsung bilang, “pasti belum shalat, ayo pulang dulu” dan aku pun hanya bias ber-yaa riya di dalam hati (yaaa.. ko ibu tau sih)
Waktu maghrib, ini adalah jam-jamnya banyak sekali film kartun bergentayangan di televisi. Dan, kalau aku masih asik duduk di depan televisi, ibu akan marah-marah. Mm.. dibandingkan yang lain, shalat maghrib lumayan lah..
Waktu isya, kalau belum shalat, meskipun aku sudah tidur, pasti langsung dibangunkan. Ya ampuun..

Terkadang, kalau memang lagi kesel-keselnya, asal badan basah (ceritanya habis wudhu) trus masuk kamar, memakai mukena, trus seperti olah raga saja, gerakannya hanya seadanya, tanpa ada do’a yang dibaca. Jadi, 1 menit pun “beres”.

Sempat benar-benar sebal, benci, dan tidak suka sama sekali dengan shalat. Sempat mengeluh, “Allah aja ga marah kalo aku ga shalat. Ibu malah marah-marah. Aneh deh”. Sempat takut shalat bukan karena Allah, tapi karena ibu, takut dimarahi. Sempat iri sama teman-teman yang lain, orang tuanya (khususnya ibu) tidak pernah memaksa mereka untuk shalat. Trus, aku yang seumuran (lebih muda 1 tahun tepatnya) malah sudah harus shalat 5 kali dalam 1 hari. Sempat terpikir, “enaknya jadi mereka. Aku mau punya ibu yang kaya gitu aja ah”.

Tapi, setelah hukum wajib itu datang, sungguh, aku amat terbantu. Karena dari kecil sudah melakukan “rutinitas” itu. Ya, tidak sulit menjalaninya, karena memang benar-benar sudah terbiasa.
Allah telah memberikan jawaban pertanyaan kecilku. Dia menjawabnya melalui waktu. Proses yang sungguh tidak mudah.

Alhamdulillah. Hanya kata itu yang dapat aku ucapkan sekarang. Mengingat semua hal yang sudah ibu lakukan. “siksaan” itu memang hanya untuk kebaikan anaknya kelak. Oh, ibu..

Bersyukur karena memiliki ibu hebat dan “cerewet” seperti beliau. Jika saat ini melihat teman-teman yang seumuran dan mereka belum bisa melaksanakan shalat 5 waktu, sedih dan kasihan rasanya. Harus mulai melakukan hal itu sekarang, pasti sulit rasanya. Sulit karena tidak terbiasa.

Sekarang, yang harus aku lakukan adalah memulai membiasakan yang sunnah. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..

Ya Allah.. terimakasih telah memberikan sosok ibu seperti beliau. Ibu yang sejak dulu sudah mengerahkan segenap kemampuannya untuk memperkenalkan Engkau kepadaku. Izinkan hamba dapat memperkenalkan Engkau kepada anak hamba kelak. Agar mereka mengenal siapa Penciptanya, siapa Tuhannya.

Sekarang, hanya bisa tersenyum malu jika ingat semua kejadian itu. ^_^

5 komentar:

  1. beruntunglah anti mempunyai orang tua yang tanggung jawab.

    setidaknya di zaman sekarang jarang sekali kata" "nak, sudah sholat?"

    tapi kebanyakan "nak, sudah belajar??"

    padahal relasi antara belajar dan ibadah itu hanya tipis..

    ^_^

    BalasHapus
  2. hiiiaaahh.. kamu, iseng bgt ya buka2 blog aku. aaiiisshhh

    BalasHapus
  3. Terima kasih sudah mebuat saya tersenyum :)

    BalasHapus