Ingat kata “shalat”,
ingat ibu.
Kenapa? Alasannya
sepele, karena ibu yang “memaksa” aku shalat ketika umurku berlabuh pada angka
8. Ketika aku duduk di kelas 3 SD.
Shalat.
Kata itu berhasil
membuat aku jengkel setengah mati. Benci tepatnya. “Pekerjaan” menyebalkan yang
harus aku kerjakan berkali-kali dalam sehari.
Hei, aku masih 8
tahun waktu itu. Selalu benci sama ibu kalau sudah melotot hanya karena aku
belum mengerjakan hal itu. Marah-marah. Ya ampuun.. cerewetnyaa..
Selalu kesal kalau
ibu sudah berisik shubuh-shubuh, menyuruh pulang ke rumah kalau belum shalat
dzuhur, ashar, atau maghrib, dan pastinya belum boleh tidur kalau belum isya.
Ckckck..
Shalat.
Waktu shubuh, kalau
bapak yang membangunkan aku dari tidur, aku akan dengan “enteng”nya bilang,
“ntar dulu ya pak, masih ngantuk”, sambil menarik selimut dengan enaknya. Trus,
dengan “enteng”nya juga bapak akan bilang ke ibu. Dan tau apa yang terjadi?
Dari dapur ibu akan teriak, “mbaa..”, dan aku langsung cepat-cepat bangun
menuju kamar mandi untuk ber-wudhu. (Padahal baru mendengar suara ibu)
Waktu dzuhur, kalau
aku masih asik bermain di rumah teman, pasti ibu menyuruh bibi untuk
menjemputku agar segera pulang ke rumah. Itu adalah hal yang paling
menyebalkan, karena jika sudah pulang otomatis aku tidak akan diperbolehkan
main lagi. Disuruh tidur. Hmm..
Waktu ashar, kalau
aku sedang bermain di taman dekat rumah dan kebetulan melihat ibu lewat (habis
mengikuti pengajian), aku akan berusaha untuk bersembunyi supaya tidak
kelihatan. Kalau untung, ya aku bias tetap main. Kalo tidak beruntung, ya disuruh
pulang.
Pernah suatu hari aku
ingin bermain ke luar, baru keluar dari rumah, eh, ibu sudah pulang dari
pengajian. Waktu ibu bertanya apakah aku sudah shalat, dengan PD aku menjawab,
“udah dong..”, aku kira ibu akan percaya, setelah itu ibu langsung bilang,
“pasti belum shalat, ayo pulang dulu” dan aku pun hanya bias ber-yaa riya di
dalam hati (yaaa.. ko ibu tau sih)
Waktu maghrib, ini
adalah jam-jamnya banyak sekali film kartun bergentayangan di televisi. Dan,
kalau aku masih asik duduk di depan televisi, ibu akan marah-marah. Mm..
dibandingkan yang lain, shalat maghrib lumayan lah..
Waktu isya, kalau
belum shalat, meskipun aku sudah tidur, pasti langsung dibangunkan. Ya ampuun..
Terkadang, kalau
memang lagi kesel-keselnya, asal badan basah (ceritanya habis wudhu) trus masuk
kamar, memakai mukena, trus seperti olah raga saja, gerakannya hanya seadanya,
tanpa ada do’a yang dibaca. Jadi, 1 menit pun “beres”.
Sempat benar-benar
sebal, benci, dan tidak suka sama sekali dengan shalat. Sempat mengeluh, “Allah
aja ga marah kalo aku ga shalat. Ibu malah marah-marah. Aneh deh”. Sempat takut
shalat bukan karena Allah, tapi karena ibu, takut dimarahi. Sempat iri sama
teman-teman yang lain, orang tuanya (khususnya ibu) tidak pernah memaksa mereka
untuk shalat. Trus, aku yang seumuran (lebih muda 1 tahun tepatnya) malah sudah
harus shalat 5 kali dalam 1 hari. Sempat terpikir, “enaknya jadi mereka. Aku
mau punya ibu yang kaya gitu aja ah”.
Tapi, setelah hukum
wajib itu datang, sungguh, aku amat terbantu. Karena dari kecil sudah melakukan
“rutinitas” itu. Ya, tidak sulit menjalaninya, karena memang benar-benar sudah
terbiasa.
Allah telah
memberikan jawaban pertanyaan kecilku. Dia menjawabnya melalui waktu. Proses
yang sungguh tidak mudah.
Alhamdulillah. Hanya
kata itu yang dapat aku ucapkan sekarang. Mengingat semua hal yang sudah ibu
lakukan. “siksaan” itu memang hanya untuk kebaikan anaknya kelak. Oh, ibu..
Bersyukur karena
memiliki ibu hebat dan “cerewet” seperti beliau. Jika saat ini melihat
teman-teman yang seumuran dan mereka belum bisa melaksanakan shalat 5 waktu,
sedih dan kasihan rasanya. Harus mulai melakukan hal itu sekarang, pasti sulit
rasanya. Sulit karena tidak terbiasa.
Sekarang, yang harus
aku lakukan adalah memulai membiasakan yang sunnah. Alhamdulillah..
Alhamdulillah..
Ya Allah..
terimakasih telah memberikan sosok ibu seperti beliau. Ibu yang sejak dulu
sudah mengerahkan segenap kemampuannya untuk memperkenalkan Engkau kepadaku. Izinkan
hamba dapat memperkenalkan Engkau kepada anak hamba kelak. Agar mereka mengenal
siapa Penciptanya, siapa Tuhannya.
Sekarang, hanya bisa
tersenyum malu jika ingat semua kejadian itu. ^_^








