Wahai takdir akhiratku..
Tau kah kau, aku sempat mencemaskanmu ?
Mencemaskan siapa dirimu. Siapakah gerangan sosok yang akan menungguku
di depan gerbang itu ?
Wahai takdir akhiratku..
Sungguh, aku sempat, sama sekali, tidak memikirkan siapa dirimu. Hanya
karena terlalu sibuk, terlalu gundah memikirkan siapa takdir duniaku.
Entah, aku sama sekali tidak mencari tau siapa dirimu. Aku belum
berpikir bahwa kau begitu penting untukku.
Saat ini, yang perlu kau tau, aku sedang berusaha untuk menjadi takdir
yang pantas untukmu. Aku berusaha sebaik mungkin agar kau tidak kecewa kelak.
Agar penantianmu di depan gerbang itu tidak sia-sia.
Kau tau bahwa saat ini aku hanya memiliki sebagian dari hatiku ?
Ya, sebagian. Karena sebagian yang lain sedang aku titipkan kepada Allah.
Kenapa ? karena aku tidak mau memberikan hatiku yang terkoyak, hatiku yang
penuh dengan tambalan-tambalan luka kepadamu. Aku ingin hati itu utuh, bersih,
tanpa sedikitpun goresan ketika kau terima.
Aku sudah membuat perjanjian dengan_Nya karena hanya Dia yang tau siapa
kamu, dimana tempat yang baik, dan waktu yang tepat untuk mengembalikan hati
itu padaku. Jadi, Dia tidak akan memberikan hati itu jika aku memintanya.
Karena aku tidak tau apa-apa.
Wahai takdir akhiratku..
Siapakah yang akan menemanimu di dunia ini ?
Siapakah pula yang akan menemaniku di dunia ini ?
Wahai takdir akhiratku..
Mau kah kau menungguku di dunia ?
Mau kah kau bertemu denganku di dunia ?
Karena sesungguhnya aku ingin itu. Bisakah kita bersama-sama ?
Wahai takdir akhiratku..
Aku ingin kau pun menjadi takdir duniaku..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar