Cinta adalah perekat agung. Ia merekatkan hubungan antara pihak pertama
dengan pihak kedua. Cinta yang benar adalah cinta yang menguatkan. Menguatkan
hubungan untuk selalu bersama, selamanya.
Cinta adalah kata kerja.
Mengubah cinta menjadi kata kerja, berarti tugas pertama yang harus
dilakukan adalah memberi. Bukan mengharapkan. Memberi sesuatu kepada yang
dicinta. Apapun yang dapat kau beri. Waktu, jiwa, bahkan cinta itu sendiri.
Bukan mengharapkan. Ya, bukan itu. Terlebih mengharapkan dia menjadi apa
yang kau inginkan. Berharap dia berubah menjadi orang lain, hanya untuk
menyenangkan, membahagiakan dirimu. Tidak membiarkan dia menjadi dirinya
sendiri.
Memberi itu berkorban. Rela melakukan apapun untuk yang dicintainya.
“Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman
kepadaku saat semua orang ingkar, yang percaya kepadaku ketika semua
mendustakan, yang mengorbankan semua hartanya saat semua berusaha mempertahankannya
dan darinya-lah aku mendapatkan keturunan”. Begitulah Rasulullah saw., berkata tentang kepribadian Khadijjah,
istrinya. Seorang isteri sejati, muslimah yang dengan segenap kemampuan dirinya
berkorban demi kejayaan Islam.
Cinta adalah kata kerja.
Mengubah cinta menjadi kata kerja, berarti tugas kedua yang harus
dilakukan adalah perhatian. Rasulullah saw., merupakan sosok yang dapat memberi
perhatian tepat kepada istri-istrinya. Ketika pernikahannya dengan Khadijah,
Rasulullah sangat paham dengan kepribadian istri yang dicintainya. Khadijah
adalah sosok yang memiliki kepribadian yang mandiri, maka cara Rasulullah dalam
memberi perhatian adalah dengan men-support
sang istri dalam menjalankan usahanya.
Ketika pernikahannya dengan Aisyah, Rasulullah dapat membedakan
bagaimana perhatian yang seharusnya diberikan. Aisyah adalah sosok muda yang
manja, maka cara Rasulullah memberi perhatian adalah dengan memanjakannya,
mengajaknya bermain balapan lari, dan lain-lain.
Ya, perhatian. Memperhatikan suami atau istri dengan cara yang sesuai
menurut sudut pandang yang diberi, bukan sudut pandang yang memberi.
Cinta adalah kata kerja.
Mengubah cinta menjadi kata kerja, berarti tugas ketiga yang harus
dilakukan adalah menumbuhkan. Menumbuhkan rasa cinta antara satu sama lain.
Menggunakan cara-cara romantis atau apapun selama cara tersebut sesuai dengan
sudut pandang yang diberi. Maka, apapun yang dilakukan, akan bernilai di
matanya.
Rasulullah menumbuhkan rasa cintanya dengan Aisyah salah satunya dengan
cara mengajaknya berlomba lari. Hal yang seharusnya tidak dilakukan Rasulullah,
mengingat umurnya yang sudah tidak muda lagi, hal tersebut terlalu
kekakan-kanakan. Namun, beliau tetap melakukannya karena hal itu sesuai dengan
keadaan Aisyah, hal tersebut membuat Aisyah bahagia. Hal sepele itu menumbuhkan
rasa cinta yang ada di antara keduanya.
Cinta adalah kata kerja.
Mengubah cinta menjadi kata kerja, berarti tugas keempat yang harus
dilakukan adalah penjagaan. Penjagaan berarti membuat dia merasa aman dan
nyaman karena berada di dekat kita. Ketika Rasulullah kembali ke rumahnya dari
Goa Hira, beliau menggigil, beliau ketakutan karena mendapatkan amanah dari
langit untuk membimbing umatnya ke jalan yang lurus, jalan meng-esakan Allah
swt. Sesampainya di rumah, hal yang dilakukan Khadijah bukan bertanya, “apa yang
terjadi padamu?”, bukan, “masalah apa
yang terjadi? Ceritakan padaku”. Tapi, dengan sigapnya
Khadijah hanya mengambil selimut dan menyelimuti
suami tercinta tanpa bertanya apapun. Khadijah hanya menyuruh suaminya untuk
beristirahat dan mendo’akannya agar selalu dalam keadaan baik. Hanya ada
keinginan untuk membuat suaminya merasa aman dan nyaman.
Ya, cinta adalah kata kerja.
Maka, ketika aku mencintaimu, aku akan mengatakan tiga hal untukmu.
Aku mencintaimu karena Allah swt.
Aku mencintaimu melalui jalan yang diridhai oleh Allah swt.
Dan, aku mencintaimu dalam rangka untuk menjemput ridha dari Allah swt.
Ya, cinta adalah kata kerja.
Aku akan menjumputmu dengan cara yang berbeda.
Maka, Allah akan memberikan dirimu untukku dengan cara yang berbeda
pula.
Ya, cinta adalah kata kerja.
Maka, aku akan mencintaimu seperti matahari.
Seperti matahari yang selalu menyinari bumi.
Tanpa mengenal lelah untuk memberikan sinarnya setiap hari.
Walaupun sinarku tak dapat setiap waktu menyentuh kulitmu karena
terhalang mendung, hujan, dan badai.
Namun, kau akan selalu merasakannya. Karena, yang tak terlihat, bukan
berarti tak ada.
Ya, cinta adalah kata kerja.
Karena Allah mencintai orang beriman dan kau adalah orang yang beriman.
Maka, suka tidak suka, aku pun mencintaimu.
Karena Allah mencintai orang yang berpuasa dan kau adalah orang yang
hobi berpuasa. Maka, suka tidak suka, aku pun mencintaimu.
Karena Allah mencintai orang yang senang berzakat dan kau adalah orang
yang senang berzakat. Maka, suka tidak suka, aku pun mencintaimu.
Karena Allah mencintai orang yang berperangai baik dan kau adalah orang
yang memiliki perangai baik. Maka, suka tidak suka, aku pun mencintaimu.
Karena Allah mencintai orang yang berilmu dan kau adalah orang yang
berilmu. Maka, suka tidak suka, aku pun mencintaimu.
Suka tidak suka. Terpaksa? Ya, memang terpaksa.
Aku memang terpaksa mencintaimu. Kenapa?
Karena Allah mencintaimu, maka aku pun terpaksa mencintaimu.
Dia telah menjadikanmu takdir untukku.
Aku terpaksa mencintai takdirku. Aku terpaksa mencintai kamu.
Aku terpaksa karena Allah yang memaksaku.
Dan aku yakin, aku lahir untuk takdirku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar