Minggu, 27 November 2011

Cinta adalah Kamu



Cinta adalah perekat agung. Ia merekatkan hubungan antara pihak pertama dengan pihak kedua. Cinta yang benar adalah cinta yang menguatkan. Menguatkan hubungan untuk selalu bersama, selamanya.

Cinta adalah kata kerja.
Mengubah cinta menjadi kata kerja, berarti tugas pertama yang harus dilakukan adalah memberi. Bukan mengharapkan. Memberi sesuatu kepada yang dicinta. Apapun yang dapat kau beri. Waktu, jiwa, bahkan cinta itu sendiri.
Bukan mengharapkan. Ya, bukan itu. Terlebih mengharapkan dia menjadi apa yang kau inginkan. Berharap dia berubah menjadi orang lain, hanya untuk menyenangkan, membahagiakan dirimu. Tidak membiarkan dia menjadi dirinya sendiri.
Memberi itu berkorban. Rela melakukan apapun untuk yang dicintainya.
Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman kepadaku saat semua orang ingkar, yang percaya kepadaku ketika semua mendustakan, yang mengorbankan semua hartanya saat semua berusaha mempertahankannya dan darinya-lah aku mendapatkan keturunan. Begitulah Rasulullah saw., berkata tentang kepribadian Khadijjah, istrinya. Seorang isteri sejati, muslimah yang dengan segenap kemampuan dirinya berkorban demi kejayaan Islam.

Cinta adalah kata kerja.
Mengubah cinta menjadi kata kerja, berarti tugas kedua yang harus dilakukan adalah perhatian. Rasulullah saw., merupakan sosok yang dapat memberi perhatian tepat kepada istri-istrinya. Ketika pernikahannya dengan Khadijah, Rasulullah sangat paham dengan kepribadian istri yang dicintainya. Khadijah adalah sosok yang memiliki kepribadian yang mandiri, maka cara Rasulullah dalam memberi perhatian adalah dengan men-support sang istri dalam menjalankan usahanya.
Ketika pernikahannya dengan Aisyah, Rasulullah dapat membedakan bagaimana perhatian yang seharusnya diberikan. Aisyah adalah sosok muda yang manja, maka cara Rasulullah memberi perhatian adalah dengan memanjakannya, mengajaknya bermain balapan lari, dan lain-lain.
Ya, perhatian. Memperhatikan suami atau istri dengan cara yang sesuai menurut sudut pandang yang diberi, bukan sudut pandang yang memberi.

Cinta adalah kata kerja.
Mengubah cinta menjadi kata kerja, berarti tugas ketiga yang harus dilakukan adalah menumbuhkan. Menumbuhkan rasa cinta antara satu sama lain. Menggunakan cara-cara romantis atau apapun selama cara tersebut sesuai dengan sudut pandang yang diberi. Maka, apapun yang dilakukan, akan bernilai di matanya.
Rasulullah menumbuhkan rasa cintanya dengan Aisyah salah satunya dengan cara mengajaknya berlomba lari. Hal yang seharusnya tidak dilakukan Rasulullah, mengingat umurnya yang sudah tidak muda lagi, hal tersebut terlalu kekakan-kanakan. Namun, beliau tetap melakukannya karena hal itu sesuai dengan keadaan Aisyah, hal tersebut membuat Aisyah bahagia. Hal sepele itu menumbuhkan rasa cinta yang ada di antara keduanya.


Cinta adalah kata kerja.
Mengubah cinta menjadi kata kerja, berarti tugas keempat yang harus dilakukan adalah penjagaan. Penjagaan berarti membuat dia merasa aman dan nyaman karena berada di dekat kita. Ketika Rasulullah kembali ke rumahnya dari Goa Hira, beliau menggigil, beliau ketakutan karena mendapatkan amanah dari langit untuk membimbing umatnya ke jalan yang lurus, jalan meng-esakan Allah swt. Sesampainya di rumah, hal yang dilakukan Khadijah bukan bertanya, apa yang terjadi padamu?, bukan, masalah apa yang terjadi? Ceritakan padaku. Tapi, dengan sigapnya Khadijah hanya mengambil selimut dan menyelimuti suami tercinta tanpa bertanya apapun. Khadijah hanya menyuruh suaminya untuk beristirahat dan mendo’akannya agar selalu dalam keadaan baik. Hanya ada keinginan untuk membuat suaminya merasa aman dan nyaman.

Ya, cinta adalah kata kerja.
Maka, ketika aku mencintaimu, aku akan mengatakan tiga hal untukmu.
Aku mencintaimu karena Allah swt.
Aku mencintaimu melalui jalan yang diridhai oleh Allah swt.
Dan, aku mencintaimu dalam rangka untuk menjemput ridha dari Allah swt.

Ya, cinta adalah kata kerja.
Aku akan menjumputmu dengan cara yang berbeda.
Maka, Allah akan memberikan dirimu untukku dengan cara yang berbeda pula.

Ya, cinta adalah kata kerja.
Maka, aku akan mencintaimu seperti matahari.
Seperti matahari yang selalu menyinari bumi.
Tanpa mengenal lelah untuk memberikan sinarnya setiap hari.
Walaupun sinarku tak dapat setiap waktu menyentuh kulitmu karena terhalang mendung, hujan, dan badai.
Namun, kau akan selalu merasakannya. Karena, yang tak terlihat, bukan berarti tak ada.

Ya, cinta adalah kata kerja.
Karena Allah mencintai orang beriman dan kau adalah orang yang beriman. Maka, suka tidak suka, aku pun mencintaimu.
Karena Allah mencintai orang yang berpuasa dan kau adalah orang yang hobi berpuasa. Maka, suka tidak suka, aku pun mencintaimu.
Karena Allah mencintai orang yang senang berzakat dan kau adalah orang yang senang berzakat. Maka, suka tidak suka, aku pun mencintaimu.
Karena Allah mencintai orang yang berperangai baik dan kau adalah orang yang memiliki perangai baik. Maka, suka tidak suka, aku pun mencintaimu.
Karena Allah mencintai orang yang berilmu dan kau adalah orang yang berilmu. Maka, suka tidak suka, aku pun mencintaimu.

Suka tidak suka. Terpaksa? Ya, memang terpaksa.
Aku memang terpaksa mencintaimu. Kenapa?
Karena Allah mencintaimu, maka aku pun terpaksa mencintaimu.
Dia telah menjadikanmu takdir untukku.
Aku terpaksa mencintai takdirku. Aku terpaksa mencintai kamu.
Aku terpaksa karena Allah yang memaksaku.
Dan aku yakin, aku lahir untuk takdirku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar