Hari itu, hari yang teramat istimewa bagiku, bukan hanya karena hari itu adalah hari paling mulia dibanding hari-hari yang lain, tapi ada hal spesial lainnya yang terjadi.
Karena di hari itu kita datang ke tempat yang sama. Dari sekian banyak orang yang ada di sana, kita berada di kelompok yang sama. Dan, kita pun bertemu. Bukan, bukan kita, tapi aku. Aku pun bertemu denganmu.
Di hari kedua kita di sana, aku baru menyadari kehadiranmu. Ya, karena aku begitu memperhatikan ketika kamu memberi penjelasan di depan kami mengenai suatu hal. Ahh, pagi itu sungguh terasa berbeda. Sebenarnya, aku pun sempat memberikan penjelasan di hadapan yang lainnya, sebelum kamu. Tapi aku tau kamu tidak begitu memperhatikan. Tau dari mana? Entahlah, hanya feeling. Toh, aku tak menyadari adanya dirimu di tempat itu sebelum tiba giliranmu tampil ke depan.
Aku memiliki kesempatan memperhatikanmu untuk yang kedua kalinya. Sama seperti sebelumnya, aku tampil sebelum kamu. Kamu tau? Walaupun ketika aku berbicara di depan, semua orang menghentikan aktivitasnya, setiap mata memperhatikanku, tapi aku tidak yakin kamu melakukan hal yang sama. Lagi-lagi hanya feeling.
Saat tiba giliranmu untuk berbicara di depan, kamu tau? Mata ini tidak bisa beralih fokus. Bibir ini -walaupun sudah aku tahan- tetap saja senyum-senyum sendiri. Dan entah mengapa, aku bertepuk tangan dengan kencang ketika kamu menyudahi pembicaraanmu. Mata ini -lagi- mencuri-curi pandang saat tubuhmu berjalan melewatiku, menuju tempat dudukmu.
Aku terpesona denganmu. Sungguh.
Aku terpesona dengan caramu memberikan penjelasan.
Aku terpesona dengan wawasanmu dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan.
Dan, aku tak kuasa untuk tak terpesona ketika kamu mengutip (baca:hapal) ayat-ayat Al-Qur'an dengan bacaan yang luar biasa.
Hei, aku tau kamu orang yang luar biasa. Walaupun penampilanmu sangat biasa dipandang. Kamu sempurna menyembunyikan semua kelebihan itu dibalik penampilan itu.
Tidak ada kumis tipis.
Tidak ada janggut bergelayut.
Tidak ada celana "ngatung".
Ya, tidak ada tanda-tanda luar biasa yang kamu tampilkan. Yang -terkadang digunakan masyarakat- sebagai simbol bagi orang-orang "takwa". Penampilanmu sangat tidak mencerminkan siapa dirimu sebenarnya.
Disaat kaummu berlomba-lomba bergaya ala orang-orang "takwa", kamu tidak mementingkan hal itu. Ahh, mengingatmu mengutip dan melafalkan ayat-ayat Al-Qur'an di luar kepala dengan sempurna saja sudah cukup membuat(ku) terpesona.
Dan, dari semua itu, aku sangat menyukai senyumanmu. ^^
Selama 3 hari, aku hanya berhasil melihatmu 4 kali. Setelah itu, sampai detik ini, kamu tak terlihat lagi. Sejak hari itu, aku selalu duduk di sini, menatap jalan di hadapanku. Berharap kamu berjalan melewatiku sehingga aku bisa meyakinkan diriku bahwa kamu nyata, kamu ada.
Tapi, tak berhasil. Jalan itu tetap dilalui orang-orang yang tak ku kenal.
Bertanya mengenai dirimu ke orang lain? Oh, keberanianku tidak sebesar itu. Karena aku tau, aku hanya satu dari sekian banyak orang yang mengagumimu. Yang hanya bisa tersenyum seorang diri ketika mengingat kamu. Yang merasakan rasa senang tak terhingga ketika mendengar gaungan namamu di kepalaku. Namun, entah, aku selalu merasakan kesedihan didetik berikutnya. Kesedihan yang sampai saat ini belum dapat kunamai. Belum bernama. Belum teridentifikasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar