Senin, 12 November 2012

Ketika yang Datang, Harus Dibiarkan Pergi (Part 1)

6 tahun yang lalu..

Sore itu, aku belum pulang ke rumah. Masih di sekolah, salah satu SMA terkenal di wilayahku, bersama teman-teman karena kami harus menyiapkan diri sebelum perlombaan bergengsi digelar. Ketika sedang asik berlatih, salah seorang seniorku menghampiri kami, tapi tanpa berkata apapun ia kembali pergi. Lalu, beberapa saat kemudian, Ia datang kembali bersama seseorang yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Setelah istirahat dari persiapan itu, akhirnya seniorku memperkenalkan orang baru tersebut. Ketika melihat penampilannya, yang ada dibenakku adalah, "orang yang aneh. Jauh dari kata rapi". Cara memperkenalkan dirinya pun unik, untuk tidak dibilang aneh. Ketika Ia bertanya, "apakah ada yang mau bertanya?", tidak ada seorang pun di antara kami yang berani mengangkat tangan untuk bertanya. Lalu, seniorku tiba-tiba berkata, "Tiara tuh mau nanya!", sambil melihat ke arahku. Aku yang tidak tau apa-apa, refleks langsung melotot ke arah seniorku. Yang dipelototi hanya cengar-cengir sendiri. Untuk kedua kalinya orang baru tadi bertanya, "ada yang mau bertanya?", akhirnya salah satu dari kami ada yang berani bertanya. Dari pertanyaan tersebut, aku baru tau bahwa orang baru tersebut juga adalah senior kami. Aku sungguh tidak berminat menyimak. Dan, ketika diakhir pembicaraan, orang baru itu bertanya (lagi), "ada yang mau bertanya?", dan lagi lagi juga, seniorku berkata, "Tiara mau nanya tuh!", aku hanya bisa cemberut. Dan diluar dugaan, tiba-tiba orang baru itu berkata, "mana yang namanya Tiara?", mendengar pertanyaannya aku kaget dan refleks langsung mengangkat tanganku. Dia melihatku, berkata, "oh, yang itu", dan mukaku langsung berubah cemberut lagi. :(

Sebenarnya Dia orang baik. Cakep. Banyak yang suka pula.
Awalnya aku hanya menganggap Dia hanya sebagai senior. Sama seperti yang lain. Tapi karena senior-seniorku yang lain sering sekali menghubung-hubungkan aku dengannya, aku jadi menyimpan sebuah perasaan padanya. Selain itu, Dia juga terkadang mengeluarkan kata atau gesture yang ambigu. Jadi, ya bertambahlah..

Semua orang di sekitar kami selalu bertanya, "kalian pacaran ya?" atau, "kayanya dia suka sama kamu" atau "kamu suka sama dia?", dan pertanyaan atau pernyataan serupa.

Bulan demi bulan berlalu..

Tiba pada suatu sore yang cerah, hampir maghrib malah, jadi langit sudah gelap. Aku masih di sekolah, bersama sahabatku. Tiba-tiba sahabatku menarik tanganku dan duduk di sebuah tempat yang jauh dari orang lain. Ia membuka percakapan sore itu dengan tanya, "kamu suka sama dia ya?". Aku yang sudah tau kemana arah pembicaraan ini pun menjawab dengan cepat, "ngga. kenapa gitu? tiba-tiba nanya gitu". Aah.. lagi-lagi membohongi hati.
Sahabatku kemudian berkata, "Kita jujur-jujuran aja ya. Aku suka sama Dia. Suka sebagai wanita dewasa. Taukan maksudnya? Tapi kayanya dia suka sama kamu karena semua orang selalu menghubungkan kamu sama Dia. Kita bersaing sehat aja ya. Kalau kamu emang suka sama dia, kamu ga usah mikirin aku, sahabat kamu, yang juga suka sama dia. Oke?".
Terpukul. Bingung. Kata yang waktu itu aku rasakan. Aku ga pernah berpikir kalau semua itu akan membuat pihak-pihak lain sakit hati, baik disengaja atau tidak. Aku hanya bisa bilang, "aku ga suka ko sama Dia. Kalau kamu mau, kamu aja yang maju. Aku ngga suka ko".

-salah satu alasan kenapa kalimat itu yang keluar adalah karena pada detik itu juga, aku tidak yakin kalau Dia akan jadi suamiku kelak. Toh, jika aku mempertahankan Dia, kita ngga akan nikah pada saat itu juga kan? Memang belum saatnya untuk mempertahankan seseorang-

Saat aku pulang, di sebuah halte bus, aku hanya bisa menangis. Ternyata orang yang aku sukai juga disukai oleh orang lain, dan itu sahabatku sendiri. Hujan pun turun menemani, setidaknya jika ada orang lain yang melihatku, air mata itu sedikit tertutupi.
Aku hanya berkata dalam hati, "Ya Allah, jika memang Dia bukan jodohku, bukan yang terbaik untukku, tolong hilangkan rasa sedih ini jauh-jauh tanpa sisa. Jauhkan juga Dia dariku."

Dan do'a itu didengar. Semakin jauh. Bahkan sampai detik ini.

Aku hanya ingin kalian bahagia. Sungguh.

Based on True Story

Tidak ada komentar:

Posting Komentar